Minggu, 18 Mei 2008

Stop Comparing, Start Flowing !

Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman
rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum.
Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum
tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari, jarum itu tak ketemu
juga.

Tetangganya bertanya, "Jarumnya jatuh dimana?"
"Jarumnya jatuh di dalam," jawab Nasruddin.

"Kalau jarum bisa jatuh di dalam, kenapa mencarinya di luar?" tanya
tetangganya. Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab, "Karena
di
dalam gelap, di luar terang."

Begitulah, kata Gede Prama, perjalanan kita mencari kebahagiaan dan
keindahan. Sering kali kita mencarinya di luar dan tidak mendapat
apa-apa. Sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagiaan dan
keindahan, sebenarnya adalah daerah-daerah di dalam diri. Justru
letak 'sumur' kebahagiaan yang tak pernah kering, berada di dalam. Tak
perlu juga mencarinya jauh-jauh, karena 'sumur' itu berada di dalam
semua orang.

Sayangnya karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya,
banyak orang mencari sumur itu di luar. Ada orang yang mencari bentuk

kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil
bagus atau rumah indah. Tetapi kenyataannya, setiap pencarian di
luar
tersebut akan berujung pada bukan apa-apa. Karena semua itu, tidak
akan
berlangsung lama. Kulit, misalnya, akan keriput karena
termakan usia, mobil mewah akan berganti dengan model terbaru,
jabatan juga akan hilang karena pensiun.


"Setiap perjalanan mencari kebahagiaan dan keindahan di luar, akan
selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap
kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan, berangkat
dari mencarinya di luar," tegas Gede Prama. Untuk mencapai tingkatan
kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, seseorang harus
melalui 5(lima) buah 'pintu' yang menuju ke tempat tersebut.


Pintu pertama adalah stop comparing, start flowing. >
"Stop membandingkan dengan yang lain. Seorang ayah atau ibu belajar
untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap
pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar,"
ujar Gede Prama.

Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan,
menurut Gede Prama, dimulai dari membandingkan. Gede Prama
mencontohkan orang kaya berkulit hitam yang tidak dapat menerima
kenyataan bahwa dia berkulit hitam. Orang itu sering kali
membandingkan dirinya dengan orang kulit putih.

"Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik.
Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan
lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang orang kaya itu.
Leads you nowhere," kata Gede Prama dengan logatnya yang khas.

Karena itu, Gede Prama mengajak peserta ke sebuah titik, mengalir
(flowing) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu
menjadi diri sendiri. Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya
sederhana saja.

Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai
belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul.
Kepercayaan
diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari
dalam. "Tidak ada kehidupan yang paling indah dengan
menjadi diri sendiri. Itulah keindahan yang sebenar-benarnya!" kata
Gede
Prama.

Pintu kedua menuju keindahan dan kebahagiaan adalah memberi. Sebab
utama kita berada di bumi ini, kata Gede Prama, adalah untuk
memberi. "Kalau
masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih
banyak," ujar Gede Prama.

"Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan; I intend good, I do good
and
I am good. Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik,
kemudian saya menjadi orang baik. Yang baik-baik itu bisa kita
lakukan, bila kita konsentrasi pada hal memberi," lanjut Gede Prama
lagi.
Memberi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pemberian dapat
berbentuk senyum, pelukan, perhatian. Dan setiap manusia yang sudah
rajin memberi,
dia akan memasuki wilayah beauty and happiness.


"Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi,
ada
yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi muka orang itu
keringnya minta ampun. Orang yang mukanya kering ini bertanya pada
saya,
apa rahasia kehidupan yang paling penting yang bisa saya bagi ke saya.
Saya bilang sleep well, eat well," ungkap Gede Prama sambil
tersenyum. Artinya memang, untuk ongkos untuk menjadi bahagia tidak
mahal.
Hanya saja orang sering kali memperumit hal yang sudah rumit. Kalau
kita
sederhanakan, sleep well, eat well akan jadi mudah jika diikuti
dengan kegiatan memberi.

Pintu ketiga untuk menuju keindahan dan kebahagiaan adalah berawal
dari
semakin gelap hidup Anda, semakin terang cahaya Anda di dalam.
Perhatikanlah bintang di malam hari tampak bercahaya, jika langitnya
gelap. Sedangkan, lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika
ruangannya gelap. Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan
cobaan dalam hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam.

"Jika Anda punya suami yang keras dan marah-marah, jangan lupa
bersyukurlah. Karena suami yang keras dan marah-marah, membuat sinar
dari dalam diri Anda bercahaya. Anda punya istri cerewetnya minta
ampun.
Bersyukurlah, karena orang cerewet adalah guru kehidupan terbaik.
Paling tidak dari orang cerewet kita belajar tentang
kesabaran.
Jika Anda punya atasan diktatornya minta ampun. Bersyukurlah, karena
Anda dapat belajar tentang kebijaksanaan," ujar Gede Prama
membesarkan hati.

Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan dan kebahagiaan, menurut

Gede Prama, biasanya telah lulus dari universitas kesulitan. Semakin
banyak kesulitan hidup yang kita hadapi, semakin diri kita bercahaya
dari dalam. Mengutip perkataan Jamaluddin Rumi, semuanya dikirim
sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak
terbayangkan.

"Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga
berguna. Gunanya adalah karena orang jelek, orang cantik terlihat
jadi tambah cantik," kata Gede Prama disambut tawa peserta. "Jadi
semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya-cahaya beauty and
happiness," tegasnya.

Pintu keempat adalah surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah
rangkaian sikap. "Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan
godaan, maka neraka tidak ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu
sekarang," ujar Gede Prama.

Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap
Anda
benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala
sesuatunya, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be
allright. Setiap kali kita melalukan ritual peribadatan, tetapi
setiap kali pula kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk
ketidakyakinan terhadap kebenaran.

"Kalau Anda melalukan ritual peribadatan tapi masih takut, mending
jangan melalukan ritual peribadatan, karena toh Anda tidak yakin
terhadap kebenaran," kata Gede Prama. "Segala sesuatunya menjadi
baik-baik saja jika Anda mencintai yang kecil," sambung Gede Prama.

Pintu kelima menuju keindahan dan kebahagiaan yakni tahu diri kita dan
kita tahu kehidupan. Manusia-manusia yang tidak tahu diri adalah
manusia
yang tidak pernah ketemu keindahan dan kebahagiaan dalam
hidupnya.

"Sumur kehidupan yang tidak pernah kering berada di dalam. Sumur ini
hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui
diri kita sendiri," kata Gede Prama.

Seandainya diri sendiri telah ditemukan, maka artinya kita kemudian
mengetahui kehidupan.

1 komentar:

Online Business mengatakan...

hebat banget blognya.. met kenal yah.. syukur2 bisa share pengalaman tentang bisnis (bukan bisnis di internet.. tapi real yang barusan aku jalani tapi udah menghasilkan bbrp juta dlm waktu kurang dari 2 bl).. eeeh.. maaf ngelantur ngomongnya yah... ok 1x met kenal...(Mary, Pria 35 th di Malang, 08179606875)